Tanilokal - Keberadaan mikroorganisme di dalam tanah berperan dalam menyediakan nutrisi siap serap bagi tanaman, sekaligus menjaganya dari serangan hama dan penyakit. Microorganisme itu diantaranya bakteri, actinomycetes, dan jamur.
Kita semua sudah mengetahui bahwa makanan utama tanaman berupa Nitrogen, Phosphor dan Kalium atau yang dikenal dengan istilah NPK. Ketiga bahan makanan tersebut diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik kemudian menghasilkan bunga, buah dan biji.
Namun NPK yang kita berikan sebagian besar masih berupa bahan mentah, di mana hanya sebagian kecilnya saja yang bisa diserap oleh akar tanaman. Sedangkan tanaman sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk memasak NPK mentah tersebut.
Bahkan 40-60% dari pupuk NPK yang diaplikasikan di lahan pertanian tidak diserap oleh akar tanaman, melainkan menguap, terikat dengan mineral tanah atau ketika turun hujan akan terbuang, terbawa aliran air ke sungai.
Nah, di sinilah peranan mikroorganisme dalam merombak NPK dan unsur hara mikro lainnya menjadi produk yang lebih sederhana, sehingga dapat diserap oleh akar tanaman.
Sebagai gantinya 30% energi yang dihasilkan dari proses fotosintesis akan didepositkan ke bagian perakaran. Yang nantinya digunakan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme.
Di sisi lain mikroorganisme juga memproduksi enzim, antibiotik, maupun asam organic yang dapat menyuburkan tanah sekaligus menjaga kesehatan tanaman.
Bakteri
Bakteri termasuk salah satu mikroorganisme yang paling aktif di antara yang lainnya. Mereka banyak ditemui di sekitar perakaran tanaman. Karena di daerah itu banyak tersedia bahan makanan yang dibutuhkan oleh bakteri seperti gula, asam amino, asam organik dan molekul kecil lainnya.
Nantinya bakteri akan bekerja dalam merombak unsur N dan P yang ada di dalam tanah menjadi produk yang bisa diserap oleh akar tanaman. Jenis bakteri tersebut antara lain;
Bakteri Nitrifikasi. Yaitu kelompok bakteri yang memanfaatkan bahan kimia sintetis Nitrogen sebagai sumber energi utamanya. Pertama-tama bakteri Nitrosomonas dan Nitrosolobus merombak ammonia yang ada di tanah menjadi nitrit. Kemudian bakteri Nitrobacter, dan Nitrococcus memecah nitrit menjadi nitrat yang dapat diserap oleh akar tanaman.
Bakteri Pemfiksasi Nitrogen. Atmosfir bumi setidaknya mengandung 78% gas Nitrogen. Namun tidak semua tanaman bisa memanfaatkan gas Nitrogen ini. Hanya jenis leguminosa saja seperti kacang kedelai, kacang kapri, dan pohon kaliandra yang memiliki kemampuan dalam memanfaatkan gas Nitrogen di atmosfir melalui proses yang dikenal dengan istilah fiksasi.
Yaitu penyerapan gas Nitrogen bebas menjadi Ammonium. Proses ini dibantu oleh bakteri Azotobacter dan Rhizobium yang menginfeksi akar tanaman. Sehingga tanaman leguminosa tidak memerlukan asupan Nitrogen dalam jumlah yang banyak.
Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Sebenarnya tanah pertanian sudah mengandung Phosphor dalam jumlah yang cukup banyak. Namun struktur kimia Phosphor tersebut masih berupa mineral yang tidak larut. Akibatnya hanya 0.1% yang bisa diserap oleh akar tanaman.
Sedangkan pemberian pupuk Phosphor sintetis sendiri pengaruhnya hanya dapat dirasakan dalam jangka pendek, yang bisa diserap itupun dalam porsi yang kecil.
Karena 75-90% bagian Phosphor sintetis yang diaplikasikan di lahan akan segera terikat dengan tanah dan tidak dapat diserap oleh akaran tanaman.
Dari sini peranan mikroorganisme sangatlah diperlukan. Bakteri seperti Pseudomonas dan Bacillus memiliki kemampuan dalam memproduksi enzim fosfatase dan asam-asam organic yang berfungsi untuk melarutkan Phosphor yang terikat dengan tanah sehingga dapat diserap oleh akar tanaman.
Actinomycetes
Kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan aroma segar tanah ketika turun hujan. Aroma tersebut ternyata dihasilkan oleh adanya aktifitas actinomycetes di dalam tanah. Actinomycetes sendiri masih satu keluarga dengan bakteri.
Dia berperan dalam mengurai serat sisa-sisa tanaman yang telah mati, bangkai hewan dan material jamur. Dalam proses tersebut sekaligus dihasilkan enzim dan asam organik.
Microorganisme ini juga bisa meningkatkan ketersediaan nutrisi, mineral dan bahan metabolis yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Di samping itu kemampuan Actinomycetes dalam memfiksasi nitrogen dan mengurai bahan organic menjadikannya sebagai mikroorganisme dekomposer.
Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa actinomycetes juga memproduksi beragam varietas antibiotik dan enzim extraseluler. Beberapa diantaranya mampu melindungi tanaman dari berbagai jenis penyakit.
Salah satunya Streptomyces yang telah lama digunakan sebagai agen anti jamur alami. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Takeda pada tahun 1978, senyawa anti jamur berupa mildiomycin yang dihasilkan oleh Streptoverticillium rimofaciens Niida secara aktif dapat menekan pertumbuhan penyakit powdery mildew pada tanaman.
Jamur
Simbiosis antara tanaman dan jamur sudah terjadi sejak 400-450 juta tahun yang lalu. Jamur di sini adalah jenis jamur mikoriza arbuskula (MA) atau yang biasa disebut sebagai jamur tanah. Setidaknya 80% spesies tanaman bersimbiosis dengan jamur mikoriza arbuskula.
Manfaat yang didapatkan oleh tanaman dari symbiosis dengan jamur MA di antaranya; mendapat nutrisi siap serap berupa fosfat dan nitrogen, meningkatkan kemampuan dalam menghadapi stress baik abiotic (kekeringan, kadar keasaman tanah yang tinggi dan kandungan logam berat) maupun biotik (penyakit akar).
Bukan hanya itu, hasil penelitian menujukkan bahwa hampir 100% dari Phosphor yang diserap oleh tanaman dibantu oleh jamur MA. Sebagai gantinya 20% hasil fotosintesis tanaman diberikan untuk kelangsungan hidup jamur MA yang hidup di sekitar akar tanaman.
Di mana kehidupan jamur MA seluruhnya bergantung dari suplai karbon dan gula dari inangnya, dalam hal ini tanaman. Hal ini dikarenakan jamur MA tidak mampu memproduksi makanannya sendiri yang berupa gula.
Jaga Tanah Tetap Subur
Aktifitas pemberian pupuk hayati atau suplemen yang berisi mikroorganisme untuk tanaman sebenarnya sudah banyak dilakukan.
Sayangnya penggunaan pupuk hayati masih bersamaan dengan metode pertanian yang konvensional. Di mana pengolahan tanah secara berat dan penggunaan bahan-bahan kimia sintetis masih sering dilakukan.
Sehingga manfaat dari penggunaan pupuk hayati tersebut menjadi hanya sementara. Karena pada dasarnya mikroorganisme sangat sensitif terhadap aktifitas pengolahan tanah dan dapat mati ketika terkena bahan-bahan kimia sintetis.
Namun apabila penggunaan pupuk hayati tersebut diimbangi dengan menggunakan pola pertanian organik, maka pertumbuhan tanaman yang baik dan sehat hanyalah sebagian kecil dari benefit yang dapat dirasakan oleh petani.
Dengan menjaga keberadaan mikroorganisme, maka kita sudah melakukan investasi jangka panjang yang akan membantu menyuburkan tanah.
Sebagai gantinya kita mendapatkan hasil panen yang memuaskan tanpa harus bersusah payah mengendalikan hama dan penyakit.
Referensi :
Maximum yield (2019). Actinomycetes
Bhatti, A.A. Bhat, R.A. ScienceDirect (2017). Actinomycetes benefaction role in soil and plant health
Singh, D.P. Prasad, R.S. ScienceDirect (2018). Crop improvement through microbial technology
Dwevedi, A. Kayastha, M.A. ScienceDirect (2017). Soil sensors: detailed insight into researchupdates, signifance, and future prospects
Glick, R.B. Hindawi (2012). Plant growth-promoting bacteria: mechanisms and applications
Smith, M. Uvhero (2017). How do bacteria help plants grow?
Bishop, C. The scientist (2003). Bacteria help plants grow
Conniff, R. Scientific american (2013). Microbes help grow better crops
Rutgers University (2018). How plants harness microbes to get nutrients: study could lead to enhanced crop growth, fewer weeds and lowerfertilizer and herbicide use
Steenbergen, H. Organic consumers association (2016). The fungi thing about soil
Pennington (2016). Why and how to improve grass roots with mycorrhizal fungi
Hammer, C.E. Pallon, J. Wallander, J. Olsson.P.A. FEMS microbiology ecology (2011). Tit for tat? A mycorrhizal fungus accumulates phosphorus under low plant carbon availability
Gambar :
https://fifthseasongardening.com/the-fungal-internet-mycorrhizal-fungi-more
Tanilokal - Buah Crown melon sudah lama dikenal sebagai “king of fruit” nya Jepang. Di mana proses budidaya melon dari varietas muskmelon ini memadukan antara sentuhan karya seni dan teknologi canggih. Selain itu perawatannya yang sangat intensif menjadikan crown melon produksi Prefecture Shizuoka, Jepang ini dinilai sebagai salah satu buah melon dengan kualitas terbaik di dunia.
Karakteristik buah melon berlabel “crown melon” ini dapat dikenali mulai dari bentuk fisiknya, diantaranya; bulat sempurna dengan warna putih kekuningan, memiliki tangkai berbentuk huruf T, serta kontur jaring yang terlihat sangat menonjol.
Rasa daging buahnya sangatlah manis dengan kadar gula rata-rata 14 brix. Selain itu teksturnya yang juicy dan lumer di mulut, menjadikan crown melon berbeda dengan buah melon pada umumnya yang kebanyakan bertekstur renyah dan sedikit keras.
Harganya pun cukup fantastis. Untuk satu buahnya dibandrol dengan harga $150-$200 atau sekitar 2,5 juta rupiah. Memang dalam memproduksi crown melon ini petani harus merawat satu per satu tanaman melon yang dibudidayakan secara khusus di dalam greenhouse. Bahkan setiap satu tanaman dikondisikan supaya hanya menghasilkan satu buah melon yang terbaik.
Sejarah Perkembangan Crown Melon di Jepang
Tanaman melon varietas muskmelon pertama kali dikembangkan di Jepang pada era Taisho atau sekitar tahun 1912-1928, di Prefecture Shizuoka. Benih pertama kali didatangkan dari United Kingdom yang dikenal dengan varietas Earl-Feboritto atau Earl’s favorites.
Karena melon bukan tanaman asli daerah Jepang, maka buah crown melon yang dihasilkan seperti sekarang ini sebelumnya telah melalui proses uji coba yang panjang.
Akhirnya dengan menggunakan teknologi greenhouse tanaman melon dapat tumbuh dengan sangat baik. Yang kemudian Prefecture Shizuoka dikenal sebagai produsen crown melon dengan kualitas terbaik.
Penyebab Buah Crown Melon Bisa Sangat Manis dan Juicy
Salah satu komponen yang menyebabkan tanaman melon sangat cocok dibudidayakan di Prefecture Shizuoka adalah tingginya intensitas sinar matahari di daerah tersebut.
Bahkan Prefecture ini disebut sebagai daerah paling terang di dunia. Hal ini penting karena supaya dapat menghasilkan buah yang berkuakualitas, tanaman melon membutuhkan sinar untuk fotosintetis dengan intensitas yang tinggi.
Selain itu petani di daerah ini menggunakan greenhouse kaca dan akrilik untuk budidaya crown melon. Di mana intensitas sinar matahari yang masuk ke dalam greenhouse dan diterima oleh tanaman bisa tetap tinggi.
Tempat penanamannya pun tidak dilakukan di tanah bedengan, namun menggunakan pot berukuran besar yang diberi penyangga supaya terpisah dari tanah di bawahnya. Sehingga akar tanaman hanya mendapatkan nutrisi serta air yang tersedia di dalam pot.
Pupuk yang digunakan merupakan campuran dari berbagai bahan organic alami. Maka dari itu aroma dan rasa buah yang dihasilkan lebih kaya dibandingkan buah melon yang diproduksi secara masal dengan pupuk kimia sintetis.
Dengan teknik ini petani dapat mengontrol jumlah pupuk dan air yang diberikan sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. Dari sini kualitas melon yang dihasilkan bisa konsisten, manis dan juicy sepanjang tahun.
Perawatan Buah Supaya Memiliki Bentuk Fisik Yang Nyaris Sempurna
Penilaian kualitas buah crown melon tidak hanya sebatas pada rasa daging buahnya saja, namun juga bentuk fisiknya. Terutama kontur jaring yang muncul di permukaan kulit, serta bentuk buahnya harus bulat. Di mana suhu udara dan jumlah air yang diserap oleh tanaman memegang peranan yang menentukan bentuk fisik tersebut.
Untuk itu petani crown melon mendesain greenhouse yang bisa secara otomatis mengatur suhu dan kelembaban udara. Di mana suhu udara ketika siang hari dipertahankan pada 30°C, sedangkan ketika malam hari suhu dijaga agar tetap 22°C.
Kaca greenhouse juga secara otomatis dapat membuka dan menutup untuk mengkondisikan suhu, kelembaban dan sirkulasi udara.
Pengairan dilakukan setiap pagi dan sore hari. Setelah buah yang dihasilkan sudah seukuran telur ayam intensitas pengairan dikurangi menjadi 2 hari sekali.
Nantinya tanaman melon mulai mengeluarkan bunga betina saat berumur 25 HST. Proses polinasi dilakukan dengan cara mengawinkan bunga betina dengan bunga jantan secara manual menggunakan kuas.
Setiap satu bunga betina dikawinkan dengan tiga bunga jantan. Saat ukuran buah sudah sebesar telur ayam dilakukan seleksi, di mana tiap tanaman hanya disisakan satu buah yang terbaik.
Tahapan yang paling menyita banyak waktu dan tenaga dalam perawatan crown melon di mulai saat memasuki hari ke 18-20 setelah polinasi. Yaitu aktifitas pemijatan dan polishing pada masing-masing buah secara manual. Setiap hari dengan menggunakan sarung tangan kain petani memijat dengan lembut permukaan buah melon.
Proses ini sangat penting agar supaya bentuk buah dapat bulat sempurna sekaligus memiliki kontur jaring yang indah. Selain itu supaya terhindar dari panasnya sinar matahari yang bisa merusak permukaan kulit buah, maka setiap buah perlu dibungkus dengan kertas.
Panen dan Inspeksi Kualitas Buah
Buah melon produksi daerah Shizuoka bisa dipanen ketika tanaman telah berumur 100 hari. Namun setelah melalui proses budidaya yang panjang tersebut belum menjamin semua buah yang dihasilkan bisa mendapat label “crown melon”.
Setiap buah yang dipanen akan diperiksa oleh tim inspeksi. Standar penilaiannya meliputi; bentuk harus bulat, bebas dari cacat, kontur jaring yang baik dan seragam serta kadar gula minimal 13 brix. Buah yang lolos inspeksi merupakan buah terbaik dan diberi label “crown melon” beserta lokasi daerah asal produksinya.
Dedikasi dan passion dalam melakukan budidaya melon tersebut menjadikan buah crown melon memiliki harga jual yang tinggi.
Sebagai gantinya petani di Prefecture Shizuoka dapat terus melestarikan budaya penanaman crown melon dari generasi ke generasi.
Referensi :
Crown melon (2019). The gift for the important people Japanese king of fruits: Crown Melon
Floyd, C. Business insider (2019). These melons can sell for as much as $22,500 each in Japan
Jie, P. Rice media (2019). The life-changing magic of a $158 melon
Melon fruits (2019). Cultivation method of muskmelon
Sharonchung (2018). Japan’s famous crown musk melon
Shigoku (2010). What is crown melon ?
Gambar :
Facebook.com/crown1921
https://melon-fruits.com/saibai/
by Ed Powers
I have been a Master Gardener for more than 9 years, 4 in Michigan and 5 in Colorado. Master Gardeners are usually sponsored by a state university and the local County. We are connected to a major agricultural university; in our case it is Colorado State University. I have worked many activities in those years in both states, although I have enjoyed Colorado the most. Of all those activities, ones that I have enjoyed the most are the activities we perform at the Farmers Market.
Farmers Markets have been around for centuries. Originally, they were found in many smaller farming communities for farmers to sell their produce to the local town’s people. Things have changed over the years as larger grocery stores replaced these markets. For a period of time the farmer’s markets disappeared, but recently they have made a resurgence, in part because of a public desire for naturally and locally grown food. Now, not only do we find produce but also clothing, cooked food and beverages, plants and many other things.
Farmers Markets have become a great place for Master Gardeners to help local individuals garden successfully.
Markets are usually weekly and happen during the growing seasons. The Master Gardeners arrive at these farmers markets, set up a canopy, and are assigned a place to display gardening information about the local area. While we set up topics to discuss at each of our weekly markets, most of the time individuals come in to discuss challenges within their gardening efforts.
It is a pleasure to use our own knowledge when answering their questions, and of course we do enjoy discussing gardening. Also, we share other resources with them such as the CSU garden notes and fact sheets, and remind guests that they are welcome to email in questions they may have. We also work with younger gardeners, encouraging them to continue their gardening effort. This just a great time as we really enjoy assisting people.
I have been a Master Gardener for more than 9 years, 4 in Michigan and 5 in Colorado. Master Gardeners are usually sponsored by a state university and the local County. We are connected to a major agricultural university; in our case it is Colorado State University. I have worked many activities in those years in both states, although I have enjoyed Colorado the most. Of all those activities, ones that I have enjoyed the most are the activities we perform at the Farmers Market.
![]() |
Master Gardeners at Evergreen Farmers Market assisting individuals |
Farmers Markets have become a great place for Master Gardeners to help local individuals garden successfully.
Markets are usually weekly and happen during the growing seasons. The Master Gardeners arrive at these farmers markets, set up a canopy, and are assigned a place to display gardening information about the local area. While we set up topics to discuss at each of our weekly markets, most of the time individuals come in to discuss challenges within their gardening efforts.
It is a pleasure to use our own knowledge when answering their questions, and of course we do enjoy discussing gardening. Also, we share other resources with them such as the CSU garden notes and fact sheets, and remind guests that they are welcome to email in questions they may have. We also work with younger gardeners, encouraging them to continue their gardening effort. This just a great time as we really enjoy assisting people.
Tanilokal - Sayuran yang memiliki bentuk seperti miniatur pohon ini ternyata syarat akan segudang manfaat bagi tubuh Kita. Kandungan serat, vitamin, mineral, antioksidan dan sulforaphane yang terdapat di dalam brokoli terbukti mampu menjaga tubuh dari serangan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah mencegah munculnya kanker.
Brokoli merupakan keluarga sayuran cruciferous, seperti halnya kubis, kale dan kembang kol. Sayuran ini sebenarnya berasal dari Italia dengan sebutan Broccolo. Nama Brokkoli sendiri berasal dari bahasa latin yaitu dari kata brachium, yang artinya cabang atau lengan, di mana menggambarkan bentuk bunga brokoli yang seperti pohon dengan batang yang besar.
Manfaat Brokoli untuk Kesehatan
Meskipun sayur brokoli ini memiliki rasa yang hambar dan sedikit pahit, tapi jangan salah, manfaatnya untuk kesehatan sangatlah besar. Tidak hanya itu, kandungan kalorinya yang rendah sekaligus bebas lemak menjadikan sayuran hijau ini cocok untuk dimasukkan dalam menu program diet.
Uniknya lagi meskipun sayuran ini tidak terasa masam, namun ternyata memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, bahkan untuk setiap satu cup atau setara dengan 90 gr brokoli dapat mencukupi kebutuhan vitamin C harian Anda.
Nah, mari kita simak manfaat brokoli berikut ini.
Menjaga Kesehatan Pencernaan dan Otak
Menurut penulis buku “The Four Pillar Plan” yaitu Dr. Rangan Chatterjee, manfaat dari mengkonsumsi sayuran berwarna hijau khususnya dari kelompok varietas cruciferous ini dapat dirasakan mulai dari sistem pencernaan yaitu usus kecil.
Kandungan serat dalam brokoli nantinya akan dicerna oleh bakteri baik yang ada di dalam usus. Sebagai gantinya bakteri baik tersebut akan menghasilkan produk berupa asam lemak rantai pendek yang memiliki manfaat dalam meningkatkan imunitas tubuh kita.
Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Medical School Universitas Harvard, ternyata syaraf otak dan sistem pencernaan saling terhubung dengan erat. Ketika sistem pencernaan seseorang bermasalah, maka dapat segera memicu stress, depresi dan kegelisahan.
Untuk itu apabila Anda mengkonsumsi makanan yang cukup serat, dapat dipastikan kesehatan pencernaan dan mental pun dapat terjaga.
Meningkatkan Kemampuan Detoksifikasi Tubuh
Tubuh kita setiap hari terkena paparan polusi yang semakin tinggi. Dengan mengkonsumsi brokoli yang mengandung banyak serat dan antioksidan akan membantu melancarkan pengeluaran racun dari dalam tubuh.
Selain itu brokoli juga dapat mencegah konstipasi, sekaligus menjaga kesehatan sistem pencernaan sehingga mengurangi resiko kanker usus besar.
Vitamin C, sulfur dan asam amino dalam brokoli juga berperan dalam membantu mengeluarkan radikal bebas serta racun seperti asam urat. Brokoli yang bersifat alkalin juga dapat menyeimbangkan level pH dalam tubuh.
Mencegah Diabetes Type 2
Senyawa sulforaphane yang ada di dalam brokoli diketahui mampu menurunkan level kadar gula dalam darah hingga 10%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa senyawa sulforaphane akan menurunkan aktifitas 50 gen yang bertanggung jawab terhadap gejala diabetes tipe 2. Di mana komponen yang menghasilkan antiosidan sulforaphane dalam brokoli ini berasal dari lutein.
Di samping itu kandungan serat dalam brokoli yang sifatnya mudah larut serta keberadaan kromium juga membantu menjaga kadar gula darah tetap rendah.
Mengurangi Resiko Kanker
Tidak hanya brokoli, sayuran golongan cruciferous dapat mengurangi resiko dari terserangnya penyakit kanker. Enzim myrosinase dalam brokoli akan mengubah senyawa kimia sulfur yaitu glucosinolates menjadi isothiocyanates yang merupakan komponen antioksidan pelawan kanker.
Namun perlu diingat agar kemampuan melawan kanker ini tetap ada, usahakan untuk tidak memasak brokoli terlalu lama.
Baca juga : 4 Langkah Menanam Brokoli Dari Biji Sampai Panen
Peneliti juga menemukan bahwa senyawa sulforaphane pada brokoli dapat menekan enzim histone deacetylase (HDAC), yang bertanggung jawab dalam pembentukan sel kanker.
Senyawa anti karsinogeniknya yang berupa glucoraphanin, diiindolymethane, isothiocyanates, betakaroten dan selenium juga berperan dalam pencegahan kanker.
Meningkatkan Kesehatan Tulang dan Gigi
Brokoli kaya akan vitamin K, kalsium, magnesium, zinc dan phosphor. Bagi lansia dan ibu hamil sangatlah cocok untuk mengkonsumsi sayuran cruciferous ini. Di mana vitamin K berperan dalam membantu penyusunan osteocalci, yaitu senyawa protein yang hanya dapat dijumpai dalam tulang dan gigi.
Selain itu agar tubuh kita dapat menyerap kalsium, maka dibutuhkan keberadaan vitamin K. Jika tubuh tidak mendapatkan asupan vitamin K dalam jumlah yang cukup, dampaknya makanan dan minuman sumber kalsium yang Anda konsumsi tidak dapat diserap oleh tubuh.
Maka pastikan untuk selalu mengkonsumsi sayuran sumber vitamin K seperti brokoli dalam menu harian Anda ya.
Referensi:
Ritschel, C. Independent (2018). Broccoli is the only y you need to eat to boost your health, doctor says.
Szalay, J. Live science (2017). Broccoli: health benefits, risks & nutrition facts
Jones, T. Life hack (2019). 11 benefits of broccoli to convince anyone to eat it
Wilcox, J. Forbes (2012). Health benefits of broccoli
Tremblay, S. SF Gate Healthy Eating (2018). What are the benefits of eating broccoli every day ?
Jessimy, M. Natural food series (2019). 13 amazing health benefits of broccoli
Shubrook, N. BBC good food (2019). The health benefits of broccoli
Nagdeve, M. Organic facts (2019). 24 incredible benefits of broccoli
Hill, A. Health line (2018). Top 14 health benefits of broccoli
Olsen, N, RD, LD, ACSM EP-C. Medical news today (2017). The many health benefits of broccoli
Gambar :
https://kirbiecravings.com/stir-fry-garlic-broccoli/
by Sharon Faircloth
Ground covers are typically thought of as a group of low-lying plants with a spreading habit of growth used to cover the landscape not taken up by our fabulous flowering plants! Creepers can enhance and protect hillsides from erosion, protect hot dry areas, enhance shady spots and assist in weed control. They can be used to enhance year-round visual interest and many varieties are critter resistant.
![]() |
Galium odoratum, Sweet Woodruff next to walkway |
As in all landscape choices, “right plant, right place” is always the first consideration. Most open spaces in our landscape seem to fill up with weeds. Ground covers are an excellent way to introduce an alternative. There are a number of attractive ground cover plants that will add color, texture, and continuous interest. Plant choice is also important in determining the area you want to cover. The larger the area, the more important the choice.
Under the right conditions, ground covers will spread quickly, allow some light foot traffic but preparation is important. Don’t fall for the misconception that ground cover means no maintenance! After you’ve determined your site, how much sun it will get, how much protection from weather you have and what type of look you want, it’s time to start removing weeds and or grass. Successful growing will be greatly enhanced by soil amendment with organic matters like compost, aged manure and sphagnum peat. Once established, some plants require less care than others. According to the excellent CSU Fact Sheet 7.413 (https://extension.colostate.edu/topic-areas/yard-garden/ground-covers-and-rock-garden-plants-for-mountain-communities-7-413/), the higher the altitude, the longer it takes to establish. It will take about two years to establish at lower altitude, giving enough time to maximize weed control. Clearing weeds as you seem them will help minimize later.
Ajuga reptans or bugleweed is a pretty, fast and low-growing option. It has interesting purplish green leaves and grows by runners that root at the nodes. There are several cultivars and readily available as ajuga, carpet bugle, blue bugle and carpetweed. It’s mat-forming and the straight species is hardy up to 10,000 feet. Recommended choices for altitude are ‘Bronze Beauty’, ‘Atropurpurea’ and ‘Chocolate Chip’ varieties. The leaves stay colorful well into the fall and spring brings spikes of bluish-purple flowers. It works well along walkways and patio areas preferring part sun to shade.
![]() |
Ajuga reptans, Bugleweed |
Two choices for full season visual interest are Arctostaphylosspp., or kinnickinnick, and Vinca (although the latter is hardy to only 8,000’ or lower). Both have bright green foliage and are low-growing. Kinnikinnick has small pink flowers in the spring and red berries in the fall. Indians used the plant for tea and a medicinal for skin problems. Vinca, or common periwinkle, have bluish purple blooms in spring. It has shallow roots and does well on banks and in gardens.
![]() |
Vinca minor, Common periwinkle |
For more sunny locations, like rock gardens, Sedum spp. (stonecrop) are great options. They come in a variety of colors and can turn lovely shades in the fall for additional visual interest. The Sedums like well-drained soil and will do well on moisture, once established. Best choices for alpine gardens are Sedum acre or 'Goldmoss' with green leaves and yellow flowers, Sedum album or White stonecrop with small green leaves and white to pinkish flowers and ‘Dragon’s Blood’ with purple leaves and reddish-purple flowers.
![]() |
Sedum spurium, Stonecrop ‘Voodoo’ in rock garden |
The hardy Geranium spp. cultivars have delicate lobed leaves with white, pink or blue flowers and vary in height and width. They like sun, bloom earlier in the year and will tolerate low to moderate moisture levels.
![]() |
Geranium cinereum, Cranesbill |
There are many advantages to adding spreading ground covers to areas of your landscape.
For more general information about ground covers, see Fact Sheet 7.40. For a refresher on soil amendments, look at Fact Sheet 7.235, and for a great resource on mountain communities check out Fact Sheet 7.413 Ground Covers and Rock Garden Plants for Mountain Communities. In addition to a head start on successful planting, get many of your questions regarding bloom times, exposure preferences, moisture requirements and general comments answered within these publication.
All photos by Sharon Faircloth
CSU Fact Sheet 7.413 (https://extension.colostate.edu/topic-areas/yard-garden/ground-covers-and-rock-garden-plants-for-mountain-communities-7-413/
CSU Fact Sheet 7.40 https://extension.colostate.edu/topic-areas/yard-garden/ground-cover-plants-7-400/
CSU Fact Sheet 7.235 https://extension.colostate.edu/topic-areas/yard-garden/choosing-a-soil-amendment/
Tanilokal - Supaya dapat tumbuh dengan baik, tanaman membutuhkan sumber makanan atau pupuk berupa unsur hara makro yang terdiri dari Nitrogen (N), Phosphor (P) dan Potassium atau Kalium (K).
Daripada menggunakan pupuk kimia NPK sintetis, Anda bisa membuat sendiri pupuk NPK tersebut dari bahan-bahan yang mudah didapatkan. Selain itu, penggunaan pupuk NPK buatan sendiri sifatnya lebih ramah lingkungan sekaligus dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Unsur hara makro NPK tersebut nantinya dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh, serta menghasilkan bunga dan buah atau biji. Karena perakaran tanaman menyerap unsur hara makro yang tersedia di tanah dalam jumlah yang cukup besar, maka Anda perlu melakukan pemupukan secara berkala.
Berikut fungsi masing-masing unsur hara makro beserta sumber bahan bakunya:
Nitrogen.
Nitrogen memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan tanaman, salah satunya adalah tumbuhnya daun yang sehat berwarna hijau gelap. Selain itu nitrogen dibutuhkan oleh tanaman agar dapat melakukan proses fotosintesis.
Proses fotosintesis ini terjadi di dalam klorofil daun yang akan menggunakan energi dari sinar matahari untuk memecah air dan karbon dioksida, sehingga terbentuklah gula. Gula yang dihasilkan nantinya menjadi sumber makanan bagi tanaman, sedangkan hasil buangannya berupa gas oksigen.
Ketika tanaman kekurangan Nitrogen akan memberikan respon berupa perubahan warna pada daunnya. Peristiwa ini terjadi karena Nitrogen merupakan bagian dari molekul penyusun klorofil tanaman yang berwarna hijau, sehingga daun tanaman yang tidak mendapatkan cukup nitrogen akan berubah warna menjadi kuning.
Khusus untuk tanaman jenis leguminosa atau kacang-kacangan, secara alami bisa mendapatkan sumber Nitrogen dari atmosfir. Di mana 78% bagian dari atmosfir adalah gas Nitrogen. Dengan bantuan bakteri rhizobium di akarnya, tanaman leguminosa akan menyerap gas Nitrogen dari atmosfir untuk dibawa ke dalam tanah.
Nantinya bakteri akan merombak Nitrogen (proses fiksasi) menjadi ion ammonium sehingga dapat diserap oleh tanaman. Sebagai gantinya bakteri akan mendapatkan gula yang dilepaskan oleh perakaran tanaman.
Untuk itu selama masa pertumbuhannya tanaman leguminosa tidak memerlukan banyak nitrogen yang tersedia di dalam tanah.
Baca juga : Leguminosa, Sumber Pupuk Nitrogen
Lain halya dengan tanaman di luar jenis leguminosa, seperti sayuran daun, sereal dan buah-buahan, yang secara kontinyu menyerap Nitrogen dari dalam tanah. Untuk itu Anda perlu menambahkan bahan sumber nitrogen agar tanaman tersebur dapat tumbuh dengan baik.
Bahan sumber Nitrogen diantaranya; kotoran dan urin ternak, bagian tanaman yang masih hijau, serta bagian kulit buah. Pastikann Anda memfermentasi terlebih dahulu bahan-bahan tersebut sampai terdekomposisi agar dapat diserap oleh perakaran tanaman.
Proses fermentasi juga berguna untuk membunuh bakteri pathogen penyebab penyakit pada tanaman, sekaligus membunuh biji-biji rumput yang mungkin masih terbawa di dalam kotoran ternak.
Phosphor.
Tidak berbeda jauh dengan peran Nitrogen, Phospor memiliki andil dalam proses metabolisme tanaman, seperti fotosintesis dan perombakan senyawa karbohidrat. Fungsi utama Phosphor tersebut adalah untuk mendukung pertumbuhan jaringan dan sel baru, serta pembentukan sistem perakaran, bunga dan buah.
Ketika tanaman mendapatkan Phosphor dalam jumlah yang cukup, tanaman akan memiliki kemampuan untuk melawan penyakit. Hal ini dikarenakan tubuh tanaman dapat tumbuh dengan baik dalam waktu yang cepat.
Apabila tanaman tidak bisa mendapatkan suplai Phosphor dalam jumlah yang cukup, dampaknya tanaman akan menjadi kerdil, serta tidak dapat memproduksi bunga.
Sedangkan pada tanaman leguminosa ketika kekurangan Phosphor maka energi yang dihasilkan dari proses fiksasi nitrogen oleh bakteri tidak dapat dikirim ke seluruh bagian tanaman. Akhirnya buah dan biji yang dihasilkan pun berkualitas rendah.
Bahan sumber Phosphor diantaranya; Kotoran ternak khususnya kotoran ayam dan tepung tulang.
Produk bone meal atau tepung tulang masuk kategori jenis Phosphor yang ramah lingkungan. Di mana kandungan Phosphor dalam tepung tulang berkisar antara 12% sampai 16%.
Dari segi harga tepung tulang cukup terjangkau, sehingga cocok digunakan sebagai bahan sumber Phosphor yang perlu dipertimbangkan.
Biasanya terdapat dua jenis bahan pembuatan tepung tulang. Yaitu tepung tulang ikan dan tepung tulang dari hasil samping pemrosesan daging. Namun keduanya apabila digunakan di lahan memiliki keunggulan yang sama.
Tepung tulang juga merupakan sumber kalsium, di mana kalsium merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman yang kuat.
Dosis yang dianjurkan saat menggunakan tepung tulang adalah sebanyak 1 - 2 sendok makan untuk setiap lubang tanam, atau 2 kg - 5 kg untuk setiap 10 meter persegi.
Saat menggunakan tepung tulang pastikan untuk mencampur secara merata dengan tanah, karena produk ini cukup disukai oleh hewan pengerat.
Potassium atau Kalium.
Potassium berhubungan dengan pergerakan air, nutrisi, serta karbohidrat di dalam jaringan tanaman. Potassium juga membantu agar proses membuka dan menutupnya stopmata dapat berlangsung secara normal, dalam proses ini juga terjadi pertukaran uap gas, oksigen dan karbon dioksida.
Ketika tanaman kekurangan Potassium maka tanaman akan menjadi kerdil dan produktifitasnya menurun secara drastis.
Namun apabila tanaman mendapatkan Potassium dalam jumlah yang cukup, hasilnya tanaman jadi lebih tahan terhadap kekeringan dan tidak mudah layu. Hal ini dikarenakan tanaman mampu menjaga agar tidak kehilangan energi sekaligus respirasi dapat terkontrol dengan baik.
Pada tanaman sereal seperti padi dan jagung, ketika kebutuhan Potassiumnya terpenuhi dengan baik, maka produksi bijinya dapat maksimal.
Bahan sumber Potassium atau Kalium diantaranya; abu dari pembakaran kayu atau jerami. Abu dari pembakaran tanaman mengandung potassium yang cukup tinggi.
Cara menggunakannya cukup dengan menaburkan secara merata dan tipis di sekeliling tanaman. Karena partikel abu sangat kecil, saat terkena air abu akan dengan mudah masuk ke dalam tanah dan dapat segera diserap oleh perakaran tanaman.
Gunakan Pupuk Kompos
Agar supaya tanaman bisa menyerap unsur hara makro NPK tersebut dengan maksimal, selalu pastikan untuk menjaga kandungan bahan organik tanah tetap tinggi. Caranya adalah dengan menambahkan pupuk kandang atau pupuk kompos yang cukup.
Setidaknya setiap musim tanam tambahkan pupuk kandang atau pupuk kompos di lahan sebanyak 2 kg untuk setiap 1 meter persegi. Dengan begitu kandungan unsur hara makro dan mikro dalam tanah dapat seimbang, sehingga tanaman serta tanah menjadi subur.
Referensi:
Howard, K. Hunker (2018). What does nitrogen do for plants ?
Koratkar, S. Bioogy discussion (2019). Nitrogen: sources and role in plants life
Mas, J. Phoslab (2013). How does nitrogen help plants grow ?
Kaiser, L, D. University of Minnesota extension (2018). Potassium for crop production
Smart fertilizer (2018). Potassium in plants
Tajer, A. Green way biotech (2016). What’sthe function of potassium (K) in plants ?
Rhoades, H. Gardening know how (2019). The importance of phosphorus in plant growth
Robertson, E. Cornell University Cooperative Extension (2012). Phosphorus Sources for Field Crops.
Gambar :
http://blog.mr-fothergills.co.uk/using-wood-ash-in-your-vegetable-garden/
Tanilokal - Pada abad ke 17 rempah-rempah menjadi komoditas yang sangat bernilai harganya. Saking mahalnya harga salah satu jenis rempah-rempah yaitu pala atau nutmeg sempat setara dengan emas. Penyebabnya adalah permintaan pasar Eropa terhadap produk ini yang teramat besar, sedangkan ketersediaannya sangat terbatas. Di mana saat itu daerah penghasil pala di dunia hanya satu, yaitu di Kepulauan Banda, Indonesia.
Penduduk Daerah Eropa pada tahun 1600an memanfaatkan rempah-rempah sebagai bumbu penyedap masakan, campuran wine dan minuman keras, penyeimbang rasa pada daging (salty winter meat), serta obat segala jenis penyakit.
Pada waktu itu salah satu jenis rempah-rempah yang paling dicari dan berharga adalah pala. Di mana hanya orang-orang tertentu kalangan atas yang dapat membelinya serta belum banyak yang mengetahui dari mana rempah-rempah yang satu ini berasal. Pala juga dimanfaatkan sebagai obat halusinasi, Pereda sakit flu dan sakit kepala, serta obat penenang.
Selain langka, penyebab tingginya nilai jual rempah-rempah karena sulitnya akses untuk membawa komoditas tersebut dari Asia Tenggara ke Eropa. Jaman dahulu jalur transportasi yang paling efisien adalah melewati laut dengan menggunakan kapal.
Untuk itu resiko yang ditanggung oleh penjelajah sangat besar, bahkan beberapa tidak dapat kembali dengan selamat ke Eropa.
Penemuan Surga Rempah-Rempah “Spice Islands” Oleh Bangsa Eropa
Karena pala menjadi sangat populer dan bernilai tinggi, para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi untuk mencari daerah penghasil pala atau yang dikenal dengan “Spice Islands”.
Pencarian Kepulauan Rempah-rempah itu pertama kali dilakukan oleh Portugis yang dipimpin oleh Afonso de Albuquerque yang akhirnya menemukan daerah penghasil pala, yaitu Kepulauam Banda, Maluku, pada tahun 1511.
Namun misi penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Eropa pertama di Kepulauan Banda ini tidak berlangsung lama. Dalam waktu kurang dari 10 tahun para penjelajah Portugis menyerah untuk menaklukkan "Spice Islands" ini.
Memasuki tahun 1599, Belanda mengikuti jejak Portugis dan tiba di Kepulauan Banda. Mereka mencoba menguasai satu-satunya wilayah penghasil pala di dunia ini dengan menggunakan kekuatan armada yang lebih besar.
Pada tahun 1609 Belanda dengan tokoh-tokoh masyarakan Banda yang dikenal dengan sebutan Orang Kaya melakukan perjanjian atau Eternal Treaty sistem perdagangan monopoli. Belanda memaksa penduduk pribumi Kepulauan Banda untuk menjual hasil buminya hanya untuk mereka.
Belanda juga memperkuat benteng Bandanairanya yaitu Benteng Nassau, yang merupakan salah satu pusat pertahanan VOC di Kepulauan Maluku.
Pembantaian Yang Dilakukan Belanda Untuk Menguasai Kepulauan Banda
Saat itu wilayah kepulauan Banda tidak hanya diduduki oleh Belanda, namun juga Iggris yang sudah lebih dulu berdagang dengan masyarakat Banda di pulau Run dan Ai. Jaraknya hanya terpisah 10 km dari pulau Banda.
Di mana pada tahun 1615 Belanda menyerang pulau Run dan Ai untuk melawan Inggris, namun mengalami kekalahan dengan terbunuhnya 200 tentara Belanda. Kemudian Pada tahun 1617 Belanda menyerang kembali dan berhasil menguasai pulau Run dan Ai sekaligus membunuh tentara Inggris.
Menjelang tahun 1621, tepatnya pada tanggal 27 Februari, dengan dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen yang saat itu adalah Gubernur Jenderal VOC, Belanda mengerahkan pasukan yang besar untuk menyerang warga serta menghancurkan pemukiman Kepulauan Banda.
Pembantaian tidak hanya terjadi di Pulau Banda, namun juga di Pulau Lontor, Naira dan pulau Lainnya. Saat itu jumlah penduduk Banda mencapai 15 ribu jiwa, namun setelah peristiwa pembantaian itu tinggal tersisa kurang dari 1000 an orang. Tidak terkecuali 44 orang tokoh pemuka Orang Kaya juga diciduk dan dibunuh.
Penduduk Banda yang selamat dari pembantaian dipaksa untuk bekerja sebagai budak di perkebunan pala. Selain penduduk asli Banda, Belanda juga mendatangkan pekerja dari pulau lainnya termasuk pulau Jawa. Dengan dikuasainya pulau Banda, harga rempah pala di Eropa seketika naik sampai 300 kali lipat dari biaya produksi.
Perjanjian Belanda dengan Inggris dan Monopoli Pala Dunia
Namun proses penguasaan Kepulauan Banda oleh VOC Belanda itu masih menyisakan 1 pulau, yaitu pulau Run yang dikuasai oleh Inggris. Karena Belanda ingin mendapatkan seluruh bagian “Spice Islands” itu, akhirnya pada tahun 1667 dibuatlah perjanjian yang disebut dengan Treaty of Breda.
Di dalam perjanjian itu Belanda menyerahkan pulau yang dianggap tidak penting saat itu yaitu pulau Manhattan atau New Amsterdam – saat ini bernama New York -. Sebagai gantinya Belanda mendapatkan pulau Run dari penguasaan Inggris.
Dengan dikuasainya seluruh Kepulauan Banda, maka Belanda mutlak menjadi pemain tunggal serta memonopoli pasar pala dunia. Setidaknya selama satu setengah abad Belanda menikmati hasil pala dan rempah lainnya dari kepulauan Banda dan sekitarnya hingga tahun 1810.
Dari sini kita dapat melihat betapa berharganya salah satu jenis rempah-rempah asli Indonesia dari Kepulauan Banda. Sampai sekarang meskipun rempah Pala sudah banyak dibudidayakan di wilayah negara tropis lain, Pala dari Banda masih menjadi standar kualitas produk yang terbaik.
Tidak terkecuali rempah-rempah lainnya seperti kayu manis (Cinnamon) dan lada putih dari Bangka yang dikenal dengan nama Muntok White Pepper.
Referensi :
Filippone, P. The spruce eats (2019). Nutmeg and mace history
Gale, T. Encyclopedia (2006). Spices and the spice trade
Hay, M. Atlas obscura (2019). The hidden history of the nutmeg island that was traded for manhattan
Myspicer (2014). The history of nutmeg
Radiya,N. I. Tirto id (2017). Pembantaian orang-orang Banda
Szczepanski, K. ThougtCo (2018). Nutmeg: the unsavory history of a tasty spice
Gambar :
https://chasorganics.com/products/nutmeg-ground-30-g?variant=783004303
https://libweb5.princeton.edu/visual_materials/maps/websites/pacific/spice-islands/spice-islands-maps.html















